RDP Polemik Jembatan Rel Besi Kuno Kalibaru Usai, DPRD Kota Cirebon Diminta Gunakan Hak Interpelasi
INAPOS, KOTA CIREBON.- Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kota Cirebon terkait polemik pembongkaran Jembatan Rel Besi Kuno Kalibaru telah usai digelar.
Dalam forum tersebut, sejumlah poin penting mengemuka, mulai dari pengakuan kelalaian hingga status jembatan yang diduga sebagai objek cagar budaya.
Pemerhati Cagar Budaya Cirebon, Edi Suripno, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendapatkan jawaban atas tuntutan yang sebelumnya disampaikan. Ia menyebut, Wali Kota Cirebon mengakui adanya kelalaian dalam penerbitan surat kepada PT KAI terkait pembongkaran jembatan tersebut.
“Pertama, diakui bahwa telah terjadi kelalaian. Kedua, kami mengapresiasi adanya permohonan maaf kepada masyarakat Kota Cirebon,” ujar Edi Suripno pada Rabu (22/4/26).
Berita Terkait:
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) serta kajian arkeolog dari Jawa Barat, jembatan rel tersebut masuk dalam kategori objek yang diduga sebagai cagar budaya. Dengan demikian, perlakuannya harus disamakan dengan cagar budaya, baik dari sisi perlindungan hukum maupun pemeliharaan.
“Artinya, proses hukum tetap berjalan karena ini diduga cagar budaya. Kami juga meminta DPRD Kota Cirebon untuk menempuh langkah sesuai peraturan perundang-undangan, termasuk kemungkinan penggunaan hak interpelasi,” tegasnya.
Meski demikian, Edi menyayangkan belum adanya jawaban tegas terkait tuntutan agar jembatan tersebut dikembalikan atau dipasang kembali. Menurutnya, pemerintah hanya menyampaikan akan melakukan kajian lebih lanjut.
Ia menegaskan, upaya pengembalian jembatan perlu mempertimbangkan aspek estetika serta kemajuan kota. Salah satu solusi yang diusulkan adalah revitalisasi dengan konsep penyesuaian struktur, seperti meninggikan jembatan atau menambahkan elemen pendukung tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
“Kalau alasannya sedimentasi atau menghambat aliran sungai, itu masih bisa dikaji ulang. Bahkan bisa dicarikan solusi teknis seperti meninggikan konstruksi. Yang penting nilai sejarahnya tetap terjaga,” ujarnya.
Edi juga menambahkan, jembatan tersebut dapat direvitalisasi dengan sentuhan edukatif, seperti penambahan narasi sejarah maupun replika yang menggambarkan fungsi dan peran jembatan di masa lalu.
Reporter: Kris
Editor: Redaksi Inapos
